Generasi yang lahir di tahun 1980 sampai tahun 2000 sering kita sebut generasi milenial. Sudah tidak asing lagi bukan kalian dengar? Jika kita mendengar ”MILENIAL’ yang pertama ada di pikiran kita pasti generasi yang berkaitan dengan teknologi. Peran generasi ini sangat besar pada teknologi digital. Dengan kecanggihan alat alat elektronik seperti komputer, smartphone, kamera, internet dan lain lain, mereka sudah mampu menciptakan berbagai karya dan bisa mengakses apa saja dengan mudah dan cepat. Dengan bermodal cakap teknologi mereka sudah dapat menghasilkan uang dari kecakapan menggunakan teknologi digital. Sudah banyak bukti kesuksesan orang orang dari memanfaatkan teknologi digital ini. Para milenial juga kini lebih mengandalkan teknologi digital untuk memenuhi kebutuhan mereka, contohnya jika mereka ingin makan, tapi malas untuk keluar. Mereka tinggal memesan makanan melalui aplikasi online dan pesanam anda akan segera diantarkan. Kita bisa membayar melalui aplikasi tersebut ataupun membayarnya langsung . Mudah bukan? Selain itu jika kalian ingin liburan tetapi terlalu malas pergi ke travel agent, jangan khawatir! Pada era ini sudah tersedia beberapa travel agent yang menggunakan teknologi digital untuk transaksi. Hal ini dirasa cukup efisien dan sangat mudah dilakukan. Beberapa perusahaan sudah menawarkan reservasi tiket dan pemilihan tiket wisata pada aplikasinya. Hal ini juga mendapat kesan positif dari masyarakat. Mereka tidak perlu repot repot mendatangi travel agent lagi. Dan juga jika masyarakat ingin bepergian mendadak, mereka hanya perlu melakukan reservasi melalui smartphone mereka. Seiring berjalannya waktu tidak dirasa teknologi pun berkembang pesat. Hal ini dipengaruhi oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Tetapi perlu diperhatikan juga identitas dan keamanan travel digital yang akan kita gunakan. Jangan sampai kita tertipu dengan travel digital palsu atau travel agent yang hanya ingin menipu konsumen.
Travel digital ini juga sedang digalakkan oleh Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya. Ia mengajak para pelaku industri pariwisata untuk “go digital”. Tanpa itu negara kita tidak akan berkembang makin pesat. Dan hal ini juga mempengaruhi persaingan pasar dunia yang semakin ketat. Hampir 70% persen wisatawan yang datang ke Indonesia sudah menggunakan travel digital. Jika para travel digital masih saja berada di sistem walk in service dalam reservasi tiket dan penawaran paket wisata ditakutkan travel agent ini akan kalah bersaing dengan online travel agent yang banyak digunakan para Milenial saat ini. Travel digital juga menawarkan harga sesuai kemampuan para traveler. Hal inilah yang menarik traveler menggunakan teknologi digital ini. Dengan ini Menpar kita sedang fokus mencanangkan pariwisata 4.0 atau tourism 4.0 . Pengembangan ini ditujukan bagi wisatawan milenial dengan harapan peningkatan yang berlipat. Era ini ditandai dengan lahirnya sistem penggabungan kemampuan manusia dengan mesin. Hal ini diharapkan mampu menambah pengalaman traveler dan mendongkrak pariwisata.
Dengan teknologi digital ini banyak menarik para seniman untuk menciptakan suatu pameran yang menarik bagi para Milenial. Karena sejauh ini para Milenial kurang menyukai seni seni klasik yang kuno. Tetapi dengan adanya unsur teknologi digital, para Milenial akan tertarik untuk berkunjung dan melihat karya karya mengesankan tersebut.
Contohnya museum macan yang ada di Jakarta ini menjadi spot bagi para Milenial untuk menikmati karya karya seni yang ditunjukan. Hal ini dilihat dari banyaknya para Milenial yang menjadikan museum ini sebagai spot foto yang kemudian diunggah ke media sosial mereka. Hal ini menunjukan keterlibatan teknologi yang sangat besar pada suatu karya.
Jadi dengan adanya teknologi digital di era Milenial ini dapat meningkatkan sektor pariwisata yang dapat mengenalkan Indonesia di kancah dunia